Sabtu, 14 Agustus 2021

Cacing Darah until Jannah

PPL bersama bu Catur ini yang membuatku pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya yang panas dan banyak nyamuknya. aku mengambil sampel sebanyak 3 kali. Pagi hari berangkat dari kampus dan bu Catur mentraktir kami di rumah makan Mojorejo Pandaan yang beliau suka adalah sayur asem yang segeerr. Sorenya kembali ke kampus dan membersihkan cacing darah itu dari lumpur yang menempel. Aku menghitung jumlah cacing yang ada di tepi kanan, kiri dan tengah dari sampe yang kami ambil. Tim lainnya mengukur COD dari air sungai Kalimas. Adakah perbedaan jumlah cacing darah yang menghuni daerah hulu, hilir  sungai? Adakah hubungan dengan COD yang merupakan salah satu indikator pencemaran di air? 

Aku membersihkan cacing itu sambil mengamati dan merenungkan perilaku cacing itu. Cacing darah itu selalu hidup berkelompok, sehingga para pencari sangat mudah untuk mengambil koloni cacing itu. Hal ini memberi kemudahan bagi para pencari cacing yang jika menemukan koloninya maka dia akan merasa mendapat rezeki dari Alloh.  Hal yang paling mengejutkanku yaitu, setelah aku teliti posisi dari koloni itu, ternyata kepala cacing itu menyatu dan ekornya selalu bergerak. Ibaratnya nasehat buat manusia, saat berada dalam suatu komunitas maka hendaknya kita satukan pikiran dan rasa sehingga terjadi chemistry dalam komunitas itu. Chemistry itu yang membuat kenyamanan dan pada akhirnya tujuan dari komunitas itu akan bisa tercapai. Sama halnya dalam rumah tangga, maka semua anggota keluarga harus sehati sepemahaman sehingga menjadi baity jannnati until Jannah. Alloh menciptakan sesuatu tidak sia-sia, ternyata nasehat ini juga dialami oleh nabi Musa.....simaklah berikut iniiiii

Yuk kita mengambil ibroh dari kisah ini...!!


‎بينما داود عليه السلام جالس في صومعته يتلو الزبور اذ رآى دودة حمراء في التراب، فقال في نفسه؛

‎-ما اراد الله بهذه الدودة؟؟-

‎فأذن للدودة حتى تكلمت، فقال؛

‎-يا نبي الله، اما نهاري فألهمني ربي ان اقول في كل يوم *سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر* الف مرة،، واما ليلي فألهمني ربي ان اقول في كل ليلة *اللهم صل على محمد النبي الامي وعلى آله وصحبه وسلم* الف مرة،،

‎فأنت ما تقول حتى استفيد منك-

‎فندم داود عليه السلام على احتقار الدودة وخاف من الله *تعالى وتاب اليه وتوكل عليه


☪️🔰Ketika Nabi Allah Dawud AS sedang duduk di tempat ibadah beliau dengan membaca kitab zabur, tiba² beliau melihat cacing merah di atas tanah, lalu beliau berkata pada diri nya;


✒️🔰Apa tujuan Allah dengan menciptakan Cacing ini??-


✒️🔰Maka atas idzin Allah cacing tersebut berkata;


☪️Wahai Nabi Allah, adapun waktu siang ku, Allah memberi ilham kepada ku agar aku membaca di setiap hari Subhanaallah walhamdulillah wala ilaha illaallah waallahu akbar 1000 x,, Sedangkan waktu malam ku Allah memberi ilham kepada ku agar aku membaca Allahumma Sholli ala Muhammadinnabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa shohbihi wa sallim 1000X,, 


✒️Lalu engkau, apa yang engkau katakan sehingga aku dapat mengambil faedah dari engkau..


☪️Maka Nabi Allah dawud AS menyesal atas peremehan beliau terhadap se’ekor cacing tersebut, dan beliau takut kepada Allah, kemudian meminta maaf kepada Allah dan bertawakal kepada Allah SWT.


🔰(Kitab mukasyafatul qulub, al muqarrab ila allamil ghuyub hal. 7, karya al imam al ghozali RA)

Rabu, 11 Agustus 2021

 

Aku yang Ditunggu

Bayi yang ditunggu-tunggu selama 7 tahun pernikahan bapak dan emakku. Bapakku seorang duda yang belum memiliki anak karena hanya beberapa bulan bersama dengan istrinya yang janda. Bapakku ganteng hidungnya mancung sehingga janda yang bernama bu Sariati menggaetnya dengan sering mengantarkan makanan ke rumah embahku. Kata embahku itu adalah peletnya. Setelah peletnya luntur maka bapakku pulang ke rumah embahku. Ketemulah dengan emakku yang perawan dengan rambut Panjang pulang dari SKP(Sekolah Kepandaian Putri). Entah bagaimana prosesnya aku lupa bertanya.

Bapakku orangnya sungkanan sehingga saat belum punya rumah, bapakku sering keluar rumahnya embahku untuk bekerja dengan berbagai pekerjaan. Pergi pagi pulang malam bahkan tengah malam. Bapakku membantu pekerjaan emboknya untuk mengolah kacang kedelai dan kacang hijau menjadi kecambah. Saat pulang tengah malam bapakku mengaji di rumahnya mbah Toyib atmawijaya. Mungkin karena hal itulah maka emakku sulit hamil hingga 7 tahun baru hamil aku. Saat hamil sangat mudah dengan tanpa keluhan karena emakku memang orang yang rajin bekerja bahkan workaholic.

Aku lahir dengan sangat cepat di emper belakang rumahnya embahku. Dukun bayi bernama mbah Tukiyam yang rumahnya kulon kali masih dijemput oleh pak De Hasyim karena bapakku lagi mengaji hingga tengah malam. Aku lahir sekitar jam 9 malam. “tahan sek, ojok ngeden mbah dukun urung teko” begitu kata embahku yang takut karena tidak biasa menemani melahirkan bayi. Akhirnya sesaat kemudian dukun bayi datang dan aku lahir. 40 hari aku membuat emakku tidak tidur malam karena aku rewel. “Maafkan aku mak”. Saat seperti itu emakku malah dimarahi oleh embahku sehingga emakku tiap hari menangis karena dikira emakku hamil lagi.

Kondisi psikologis emak yang sedih membuat air susunya tidak lancar keluar sehingga aku kurang puas. Mungkin itu juga yang membuatku rewel. Akhirnya saat umur 8 bulan aku diminumi susu dan makan roti tawar yang saat itu hanya ada di toko Fajar, satu-satunya toko roti  yang ada di kota Blitar. Sungguh makananku mahal saat itu dengan kondisi ekonomi orang desa. Itulah pengorbanan emak dan bapak yang membelikan roti dan susu walau harganya mahal demi anak bayinya bisa makan walau jauh dan mahal ya dibelikan….lop u emak dan bapak.

Aku Dekat Aku Akrab

Aku sejak kecil dekat dengan pak De Hasyim suaminya bu de Suprihatin karena saat itu yang sering momong aku beliau. Bapakku jarang pulang saat aku terbangun sehingga aku kurang dekat dengan bapak. Aku dekat jug dengan masnya emak, Pak de Yadji dan emak Tukiyatun. Aku anak yang mudah akrab dengan keluarga lainnya. Saat aku TK pernah diajak ke candi Borobudur tanpa emak. Aku dibelikan mainan patung burung yang terbuat dari kaca tipis sehingga harus hati-hati membawanya, takut pecah.

Aku sering juga menginap di rumah mbah Sitas, mbah putri dari bapak. Mbah Kakung aku sudah tidak ketemu, meninggal sejak lama. Pertama aku tidur dengan mbah Sitas, lama kelamaan aku berani tidur sendiri di ranjang yang berbeda, sebelahan dengan ranjangnya mbah. Sodaraku lainnya tidak ada yang pernah menginap di rumah Mbah, hanya aku sehingga mbah ku sayang aku dan bukti sayangnya aku dibelikan kalung emas. Cucu yang lainnya gak ada yang dibelikan kalung. Aku rajin, kalo bangun pagi pasti membantu menyapu halaman, menyapu seluruh rumah bahkan mencuci piring dan menggosok tempat cuci piring yang saat itu tergolong kotor dan kadang ditumbuhi jamur. Tanpa rasa jijik aku membersihkan tempat itu.

Sering juga main dan masak-masakan di rumah pak Puh Sardji. Paling aku ingat masak bersama mba Anis, masak dadar gulung. Makanan yang paling mudah dilakukan buat anak seusia SD. Tepung beras dicairkan dan di dadar kemudian membuat isinya enten-enten. Bahannya kelapa parut dimasak dengan gula kepala. Aku, mas Agus  dan mbak anis yang masak dimakan bersama mas ashofan, mas Gun yang sudah usia SMA.

Setiap minggu aku ngampung menyetrika baju di rumah mbak Anis. Karena aku tidak punya setrika. Beli areng bersama di tumpahin sedikit minyak tanah dan dikasih api lalu dikipasi hingga menganga dan digosokkan ke baju seragam. Bisa juga dengan menggunakan batok kelapa kemudian dibakar hingga menganga dan dimasukkan ke dalam setrika. Jika kepanasan maka diletakkan diatas daun pisang, berbunyi Cheesss dan mengeluarkan aroma khas. Bergantian aku , mbak Anis dan mas Agus menyetrika baju seragam. Sebelumnya menyetrika diawali dengan melihat TV. Hanya pak Puh di daerah itu yang punya TV sehingga banyak anak yang menontot bersama “nobar” si Unyil setiap jam 8.30.

Rumah Baru

Entah kenapa embahku seakan kurang sayang sama emakku, padahal emaku itu anak ragil dari 4 bersaudara. Anak ragil biasanya lebih disayang, mungkin karena bapakku yang sering pulang malam dan gak jelas pekerjaannya dan mungkin juga gak jelas penghasilannya. Sebagai istri emak juga tidak tega membiarkan bapak disindir dengan lemparan kayu kancingan pintu, namun sebagai anak emak juga tidak mau melawan embohknya. Karena sering di marahi itulah maka emakku minta rumah pada bapakku dengan sangat keras. Beliau berdua bekerja hingga bisa membeli tanah dan membangunnya saat aku berusia 8 tahun. Rumah itu berdiri atas saran dan dukungan materi dari perkumpulan Taawun yang dipimpin oleh KH Toyib Atma Wijaya.

Emak dan bapak  sangat bersyukur dan selalu menyebut jasa sang guru yang telah membimbing secara spiritual bahkan material. Saat itu kami pindah ke rumah baru yang kondisinya masih belum punya daun pintu dan jendela yang masih tertutup oleh gedek/dinding bamboo. Kamar mandi permanen belum ada, hanya bilik segi 4 yang ditutupi dengan gedek diujung kebon milik kami. Bapak dan emak mengaambilkan air dari sumur dengan menimba menggunkan  kerekan bulat untuk mengisi gentong dari tanah, lantainya lemah yang dibubuhi dengan kerikil. Aku belum boleh menimba, begitulah sayangnya emak bapakku. WC belum punya sehingga nunut di WC mbah Jariyah tetanggaku yang cukup kaya.  Zula masih umur 1,5 tahun belajar jalan dan menginjak plesteran yang basah, seperti stempel kaki.

 

Belajar IPA makin Taqwa 

Aku memang sejak SMP senang IPA terkhusus biologi, walaupun saat SMP belum kenal biologi dan fisika seh. Teringat saat SMP guru IPA ku namanya pak Amin. Performance nya mirip dengan penyanyi Ahmad Albar. badan kurus, tinggi, jangkung. Rambut keriting mongkrok, kulit putih bersih. Beliau ayah dari teman seangkatanku yang namanya Erna. Aku mengagumi beliau saat mengajar, lucu, seakan kuecil menyelesaikan setiap soal yang beliau ciptakan sendiri.  Nah, giliran aku mengerjakan soal dari beliau serasa bundel otakku, lupa dengan rumus dan juga satuannya. 

Guru IPA ku yang kedua adalah pak Kateni/ Nur Cahyo. Beliau adalah tetanggaku, rasanya malu kalau aku ditunjuk untuk mengerjakan soal dan aku tidak bisa, maka aku berusaha dengan sungguh-sungguh. Takutnya  kalau beliau ketemu dengan bapakku yang setiap hari ke sawah lewat depan rumah beliau. Aku membayangkan beliau "Pak Dim, kok mbak Asri mboten saget  IPA kados pundi nggeh?". Wah pasti bapakku langsung bilang "Njih kulo titip njenengan les i mawon pak Nur". Hal yang kurasakan sama, ketika beliau yang memasukkan angka dalam rumus akan menemukan jawaban yang tepat, sementara aku bingung pilih rumus yang mana ya? Angka ini masuk dalam variabel apa? Hingga aku berpikir untuk tidak memilih A1 saat SMA. Alhamdulillah aku lulus dengan nilai IPA yang mumuaskan karena aku selalu berjuang untuk semakssimal bisa menyelesaikan dan berdoa semoga soal yang jadi bagianku yang mudah buat aku.    

Alhamdulillah aku masuk SMA 1,  SMA favorit di kota Blitar. Muridnya mayoritas dari SMP 1 dan SMP 3 serta SMP lain yang merupakan siswa terpandai di SMPnya. Kelas 1.1 aku masih berjuang terus untuk bisa lulus nilai Fisika karena itu juga masuk dalam syarat pemilihan jurusan.  Aku tanpa ragu aku memilih A2 supaya tidak terlalu banyak pelajaran Fisika walaupun hanya selisih 3 jam pelajaran aja sudah membuatku lega untuk sementara 3 jam tidak berinteraksi dengan Fisika. Biologi yang mendominasi sehingga menambah cintaku padanya. Aku cinta padanya karena dengan mempelajarinya aku makin mengerti bahwa kekuasaan Alloh yang luar biasa, yang ada dalam tubuhku dan lingkunganku. Bapakku sering menasehatiku "sopo seng kenal awake mongko kenal gustine" . Bapakku menterjemahkan bahwa kenal dirinya itu memahami banyak nikmat Alloh dalam diri kita, walaupun beliau tidak menjabarkan dalam ilmu biologi seperti bu Eny guru biologiku dan juga wali kelasku. 

Alhamdulillah aku lulus, SMA 1 dengan nilai Fisika yang tidak mengecewakan, sekali lagi aku terus bersungguh-sungguh dan melawan nafsuku untuk menjauhinya. Aku konsultasi melanjutkan kuliah ke guru BK nya kakak kelasku, Pak Agus. Sebenarnya guru BK ku bu Prapti yang baik, namun dengan  sadar diri aku sering berkonsultasi dengan Pak Agus. Mulai dari kesulitan berbahasa Inggirs yang akhirnya beliau menyuruh aku untuk membaca 1 paragraf tiap hari, menghafalkan kosa kata yang aku tidak mengerti setelah aku mencari di kamus. Buku catatan arti kosa kata itu masih ada hingga tulisan ini aku buat. Beliau tahu kalau aku sangat mencintai biologi maka beliau menyarankan aku untuk mengambil MIPA biologi Unibraw lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan) kalau sekarang jalur Undangan. 

Kereeeennnn....bocah ndeso, anake wong tani bisa masuk perguruan tinggi ternama lewat jalur tanpa tes, hanya mengandalkan nilai rapot yang harus meningkat rata-ratanya dan selalu juara 1, 2 atau 3. hadza min fadli Robby.....Aku sangat bersyukur, karena dengan masuk PTN aku bisa membantu ortuku untuk tidak membayar biaya kuliah mahal. Aku juga membantu ortu karena tidak usah ikut bimbingan belajar aku bisa masuk PTN yang diidamkan oleh siswa SMA. Aku melegakan diri sendiri karena saat temanku berjuang bimbingan belajar dan ujian aku sudah pasti diterima. Saat itu yang diterima di UB hanya 3 orang, Agus Widodo di Tehnik Elektro dan 1 nya aku lupa. Aku bersyukur juga karena dengan masuk jalur PMDK di PTN itu dapat juga menaikan status sekolahku.  Guru-guruku mengucapkan selamat padaku dan menasehati untuk memasuki UB dan setia, serta berprestasi karena itu akan menyangkut nasib adek kelasku. Peringatan keras, "dilarang keluar dari UB, pindah ke lain hati" karena hal itu akan membuat SMA 1 di black list sama UB.  

Aku tidak ada niat memang untuk pindah ke lain PTN.  Aku berharap biologiku lebih mantap pemahaman sehingga dapat mendekatkanku pada Allah, karena dengan belajar biologi kita semakin tahu kebesaran Allah yang ada dalam diri kita dan di lingkungan. Bahkan saking setianya aku pada UB dan SMA 1, aku diminta pak Puh Sartam untuk ikut ujian STAN ya aku ikut saja tapi takut kalau diterima maka lembar jawaban yang aku kumpulkan tidak aku beri nama. Aku membaca bismillah demi SMA 1, demi nasib adek kelasku aku tawaqal untuk setia pada UB. Aku yakin kalau aku memperhatikan nasib orang lain, adek kelasku, SMA ku, nasehat guruku maka Alloh akan menolongku. Alhamdulillah, kini aku makin dekat dengan yang aku cintai yaitu Biologi seumur hidupku yang dulu belum jelas cita-citaku kini Alloh mengarahkan aku menjadi pecinta Biologi, mengajarkan biologi dan semoga membimbing muridku menuju ketaqwaan dengan B   I   O  L  O  G  I. 

Kamis, 29 Juli 2021

My Royco

 

My Royco

“Mail, kamu kalo gak ada umi gak pernah makan ya?” Pertanyaanku penuh heran karena dia yang biasanya gak suka nyemil, tiba-tiba makan asinan buah yang pedas, manis dan asem sambal huah huah.

“Iya mi, males makan”

“Lha trus kalo ada umi jadi suka makan? Berarti umi kaya penyedap rasa dong”

“Emang” jawab dia dengan tersipu malu

“Umi juga punya penyedap rasa Il, dia adalaaaaaah Mbah Ti, kalo pulang Blitar masakan mbah Ti itu yang paling enak, umi gak mau makan di warung manapun sebelum sampai rumah dan manyantap masakannya Mbah Ti. Umi rela menahan lapar dan gak pingin blas Ketika abi dan mbak Sari serta mas Riza andok rujak ato bakso. Habis itu umi kebanyakan makan dan kentutnya umi luar biasa joss, namun hebatnya perutnya umi, sedikit kenyang maka umi langsung BAB. Jadiii bisa makan lagi deh”

Kini sejak emak sakit tidak bisa masak, rasanya jadi males makan. Emakpun kalau aku yang masakin kurang suka, makanya aku sering beli makanan, toh di blitar harga 500 gorengan sudah besar. Sego ampok lauk iwak asin 3 ekor sak jempolan, urap godong telo sepe dan kecambah serta dau kates tambahin dengan lodeh buah kates mak nyuuussss. Harganya cumin 3000. Anak2ku suka banget, masing-masing habis 2 bungkus. Jam 6 sarapan, jam 9 makan kedua kalinya. Begitulah kehidupan di Mberjo.

Aku pulang kampung lebaran ini sampai Sumbringin jam 7.30, beli buah kates yang siap dioseng-oseng, sudah dirajang kecil2 harganya cumin 2000. Aku langsung masak dengan bayangan enaknya masakannya emak. Jadilah masakan 1 wajan keci, heran aku 2000 aja kok banyak, “lha iyo mas makane lodeh kates sak plastic 1000, lha buahe siap masak wae 2000, masyalloh kit atua di Mberjo ae mas” begitu aku bicara sama suamiku. Masakan sudah siap aku santap, eeeehhh rasanya gak bisa seenak masaknnya emak. Kecewa aku dengan diriku sendiri dalam hati, namun syukur suamiku masih doyan. “Jadi males akum asak mas, lebih baik beli saja deh”

Itulah yang aku suka dari suamiku, dalam hal makan dia persis bapakku, gak pernah mencaci makanan, bahkan makananya emak adalah kesukaannya bapakku. Sejak emak tidak bisa masak, bapak makin sulit makannya karena merasa kurang cocok dengan masakan adekku dan kalau belipun juga kurang cocok. Bapakku paling anti kalau jajan di warung. Beliau menasihati aku “we ngerti? lek neng warung ki nyuci piringe urung mesti lek suci, digrujuk banyu mili iku ngono sek najis. Lek pas bahan masakane ugo urung tentu digrujuk banyu, lek masaakane emak kan, mesti wes disuceni, durung maneh uwong iku lek senengane neng warung ki kurang adab, ora sopan, ora duwe isin”.

 Aku juga mikir saat itu, apa hubungannya makan di warung dengan itu semua, kalau hal kesucian memang aku liat nyata. Pemilik warung kecil pastinya punya air terbatas sehingga mencuci piringnya memang tidak diklucur air, bahkan aku pernah melihat rombong bakso keliling, timba cucian piringnya sudah berminya dan berwarna merah oleh saos, langsung diangkat dan dilap dengan kain. Secara logika musin covid, kalau pelanggan sebelumnya OTG kemungkian besar virusnya masih mempel di piring dan lap yang juga kurang bersih…hihihih ngeri. Benar banget bapak tidak suka makan di tempat umum.

Terkhusus Mail, dia anaku yang paling ngalem sama aku, sejak bayi kalau nangis hanya diam kalau aku gendong. Kini makanpun kalau aku duduk dia pasti duduk dipangkuanku. Dan 5 anakku yang lainnya sukanya minta dulang, kalau kumpul, satu piring makan berenam, sampai-sampai ambil makannya 6 kali juga.


Hima mengerjakan tugas akhirnya "Sistem Pencernaan"


Perjuangan belajar di era pandemi









Petuah Pahlawanku

 Nasehat Bapakku

👐QS 12 : 33

Dunia itu penjara bagi orang beriman

 

Sebagaimana do'a nabi Yusuf di QS 12 : 33👉Wahai Tuhanku!  Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.....

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)

 

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.

 

Pernahkah kita merasa bahwa sudah nyaman dg keadaan kita? Jika ya mari kita menelaah ayat QS 12 : 33 dan hadist ini❤️

Klo hadist dan ayat ini berbicara dunia adalah penjara bagi mukmin, mungkin kita merasa nyaman hidup di penjara? 🤭

Pemahaman sy jika kita aman berarti kita  kategori ga beriman😔dan sy menyakini itu dg merujuk ke ayat QS 29 : 2 tdk akan dibiarkan berkata beriman sebelum Allah uji🤭 dan selalu di ganggu dari segala arah sesuai MOU Allah dan setan QS 7 : 17 jika kita tetap teguh godaannya di tingkat QS 17 : 64 berpasukan dan berkuda 🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️semakin mendekat kepada Allah di QS 6 : 112 di sediakan musuh....artinya orang mukmin selalu di uji agar berusaha semaksimal mungkin utk terhindar dari setiap godaan dan  bersabar dari maksiat dengan menahan diri. Karena

dunia ini adalah penjara bagi kita di dunia. Di akhirat kita akan peroleh balasannya.

Dunia itu penjara bagi orang beriman. Apa maksudnya?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.

Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”

Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”

Jadi bersabarlah dari maksiat dengan menahan diri. Karena dunia ini adalah penjara bagi kita di dunia. Di akhirat kita akan peroleh balasannya.


Sumber 
https://rumaysho.com/11513-dunia-itu-penjara-bagi-orang-mukmin.html

Masyaallooh aku ingat sekali bapak selalu menasehatiku dengan hal di atas. Saat itu aku menentang dalam hati “wah berarti tidak boleh bergembira dong di dunia ini, wah gak enak ya jadi kaum muslimin, wah hidup ini tidak bebas dong” banyak lagi pertemtangan dalam batinku. Ternyata memang bapakku benar dan gurunya mbah Toyib insyaaloh benar. Bapak mengamalkan juga pemikiran itu sehingga bapak seakan tidak memiliki keinginan apa-apa terhadap dunia ini. Bapakku selalu mengingatkan kami dengan ibadah terutama sholat.

Bapak sosok sederhana yang tidak ingin belajar naik motor, beliau trimo dibonceng saja. Padahal teman-temannya banyak yang awalnya tidak bisa naik motor dan akhirnya saat sudah jamannya punya motor bebek belajar dan bisa. Pak Dul Latif, pak Turut, semua dulu bisanya naik sepeda kebo, namun saat semua sudah banyak yang memiliki motor bebek, beliau bisa dan bapak tetap tidak mau belajar “aku ngene wae wes trimo” selalu kalimat itu yang beliau ucapkan.

Bapak nrimo dalam hal pakaianpun tidak pernah berminat untuk membeli, kecuali itu diberi oleh kakaknya pak puh Sartam dan pak puh Sarji serta adeknya pak Lik Marsid. Bapak nrimo bajunya beberapa saja. Saat kami sudah mampu untuk membelikan baju bapak bilang “nyapo klambi akeh-akeh, repot umbah-umbahe”. Demikian juga dengan sandal, kalau lebaran kami ingin membelikan sandal jawabnya “gae opo iku lo sek onok”. Bapak hemat kalau pakai baju dan sandal karena hanya dipakai saat pergi, sementara beliau jarang pergi jauh. Perginya bapak ngaji, beli tembakau di langganannya atau ke rumah pak Puh ndan pak Lik.

Saat kami sudah punya uang untuk memberi sedikit uang saku buat bapak “gae opo duit? Poko wes pok sediani rokok wes cuku gae bapak” Terkadang bapak minta uang emak hanya saat jumatan buat mengisi kotak amal di masjid. Uang yang kami berikan kadang bua nyangoni teman-temannya kerja bersama sulu misalnya , Pak Sarji. Akhirnya uang itu diberikan pada cucu-cucunya dan setelah 2 tahun meninggal adekku menemukan uang yang sering kami beri di bawah dipan, di antara sela-sela bajunya bapak. Benar-benar bapak tidak menginginkan dunia.   


                                                            Beliau yang sudah ogah makan

Matursuwun bapakku pahlawanku 


Definisi Cita-citaku

Definisi Cita-citaku 

Berawal dari doktrin emakku, "kowe disekolahne emak ben iso oleh kerjo nduk". Sederhana memang cita-citanya emakku, karena latar belakang beliau dulu yang tidak bekerja sehingga menggantungkan hidupnya dari bapakku. Bapakku pun juga sudah berbagai bidang pekerjaan coba digeluti, mulai dari tidak punya pekerjaan tetap sehingga membantu embahku mengelola kecambah untuk dijual ke pasar. bapakku bagian menyirami biji sehingga menjadi kecambah dan membersihkan rumah embahku.  Mbaltik sepeda pancal di pasar sepeda juga pernah dan terakhir mengelola sawah pertanian punya pak Puh. Kalau bapak seh sering menasehati aku " kowe lek sekolah agama seng tenanan, lek pelajaran agama kudu oleh 100, pelajaran liyone sak ngisore ra popo". Bapakku menasehati lagi "bapak ora iso marisi bondo nang kowe, meng sekolaho seng tenanan"

Aku belum mengerti betul saat itu, namun aku hanya berusaha sekolah serius hingga di tiap kelas yang aku lalui aku selalu juara 1 sd 3 dan pernah juara 4 itupun karena aku adaptasi di SD baru yaitu SDN Bendo 2. Aku hanya senang kalau bisa juara 1, walaupun saat itu bapakku tidak merasa bangga di depanku. Namun aku pernah mendengar bapakku membicarakan prestasiku saat berbincang dengan temannya. Aku hingga SMA punya cita-cita yang berganti2 mulai dari jadi guru TK seperti bu Carik yang sabar menghadapi kerewelanku. jadi polisi yang langsing dan cantik, jadi pegawai bank yang bersih dan banyak duitnya, jadi dokter yang inginku bisa menolong orang. Jadi guru BK karena aku mengidolakan Pak Agus guru BK nya kakak kelasku namun aku suka curhat dengan beliau.  Intinya aku ingin bekerja yang selalu berinteraksi dengan orang tapi aku tak tahu profesi apakah itu. 

Akhirnya aku mencoba menjadi guru Les saat aku semester 5 dan ternyata aku senang walau bayarannya 1 bulann 8x pertemuan cuman 50 ribu belum lagi aku harus naik angkot di Malang yang agak jauh dari tempat kosku dan akhirnya pulang nginap di Mas Yan untuk silaturohim. Setelah lulus S1 aku juga memberikan les di Sumberingin. kemudian aku menikah dan mencari kerjapun juga sebagai guru SD Islam raden patah Semolowaru dengan gaji 125 ribu sampai aku melahirkan sari di Blitar dan aku berhenti. Kembali ke Surabaya melamar di Al Hikmah gagal dan diterima di SMP Muhammadiyah Gadung selama 3 tahun dan akhirnya menjadi guru Al Hikmah sampai sekarang.

Aku ternyata senang menjadi guru, itu adalah profesi yang aku inginkan selama ini belum terdefinisi. Aku berpikir bahwa semua orang itu kepingin jadi guru. Lihat saja dalam suatu pembicaraan ibu-ibu, pasti semua orang ingin menularkan pikirannya ke orang lain. Itu kan artinya pingin mengajari, yaaahhh paling tidak mengajari anaknya sendirilah. Menjadi guru adalah "pewaris nabi" itu yang selalu didengungkan oleh ketua yayasanku ustd Kadir Baraja. Menjadi guru adalah pekerjaan yang paling mudah untuk mengajak orang lain, baik mengajak kebaik maupun penyelewengan,....hehehe kalau mau seh. Menjadi guru adalah mengerem hawa nafsu, karena menjadi contoh buat murid kita, kalau kita berbuat jelek atau tidak berbuat maka kita akan kena hukum Alloh "kaburo maktan indalloh" Alloh membenci orang yang omdo tapi tidak doing something. 

Secara keduaiawian seh, dengan kita bekerja apapun itu, paling tidak tidak menggantungkan uang pada suami, orang tua bahkan orang lain. kalau mau sedekah tidakmusah ijin suami, atau ortu karena kita punya uang sendiri. Bahkan mulia lagi kalau uang kita sedekahkan ke keluarga, untuk membantu suami menyekolahkan anak kita, maka ketika anak kita bisa menyekolahkan anaknya lagi karena ilmu yang kita bekalkan akan merupakan amal jariyah. Itu yang aku belajar dari emakku hingga beliau bekerja keras untuk menyekolahkan aku dan adekku hingga kini kami bisa mandiri dari mengharapkan blanja suami. 


                                                                        Definisi Cita-citaku


Bekerja menjadi guru ternyata bisa mengambangkan diri untuk pendidikan anak-anak kita juga, sehingga sekalian kita pinter mendidik murid juga untuk mendidik anak-anak kita. Bahkan kepala sekolahku ustd Edi dan ustd Mim selalu membekali semangat kami dengan ucapan "kalau kalian memperhatikan, menjaga dan mengurusi murid kita, pasti Alloh akan mengursi dan menjaga anak biologis kita". Masyaalloh suatu petuah yang mengutakan keimanan dan memotivasi untuk selalu baik dalam mengelola murid dan aku membuktikannya sendiri, betapa aku bersyukur 5 anakku mau mondok. Kalau aku sambungkan ternyata cita-cita bapak dan emakku itu terhubung dengan petuah para pimpinanku di Al Hikmah. Sampai-sampai suamiku tidak mengijinkan aku untuk jadi guru PNS "kamu belum tentu akan lebih baik, di sini kamu berkumpul dengan lingkungan yang baik". 

Bekerja apapun itu akan membuat kita mempunyai wawasan lebih luas, karena kita bertemu dengan banyak orang dan dari komunikasi itu kita harus bisa belajar. Komunikasi kita dengan orang lain hendaknya membuat kita lebih dewasa dalam menghadapi segala hal. Karena hidup kita itu penuh dengan tantangan yang hanya akan bisa kita lewati dengan sikap dewasa dan keimanan. Hal ini juga akan membuat suami kita bangga lo dengan istrinya. Punya istri yang wawasannya luas, nyambung kalau diajak bincang-bincang. Bahkan bangga kalau punya istri berprestasi. Yaaa sedikit nyombong boleh ya....banyak teman kerjaku yang seakan bilang WOW dengan prestasiku. Anakku banyak namun kerja di sekolah juga gak keteteran.   

Agak keduniawian juga seh, wanita bekerja agak terlihat berbeda penampilannya di hadapan suami. Kadang pakai blazer, kadang pakai daster....kadang pakai gamis kadang pakai baby doll yang menggoda suami. Jadi ada variasi di depan suami yang terbiasa melihat diluar sana koleganya dengan berbagai dandanan. 

Bekerja membuat suami kita lebih menghargai kita, walaupun memang tingkat kecapeannya pasti 2x lipat. Ini aku rasakan sejak WFH seakan hilang rasa capek badanku walaupun aku di rumah juga mengajar dan mengurusi hal sekolahanku yang cukup padat, namun hal ini sedikit membuat capek-capek hilang. Suami menghargai dengan cara membantu urusan rumah kita, kita kerjakan besama dan itu menambah keromantisan. Andai aku tidak kerja pasti suami memasrahkan semua perkejaan rumah padaku dan itu hal yang tidak ringan lo. Jadi ibu rumah tangga itu tiada habisnya kerjaan, belum lagi kalau gak beres pasti akan kena "batin" suami "orang kerjaan dirumah ae kok rumah ra beres". Ya Alloh memeleh keringat dan air mata andai aku dikatain begitu.

 

Aku menghargai karya temanku


Bersama Al Hikmah yang penuh Berkah 

Minggu, 16 Februari 2014

Sistem Transportasi (5) : Golongan darah Rhesus

Artikel ini telah dibaca 6,469 kali

Artikel sebelumnya:
Seperti juga golongan darah berdasarkan sistem ABO, golongan darah Rhesus juga didasarkan pada jenis aglutinogen pada eritrosit dan aglutinin pada plasma darah.
Golongan darah Rhesus ini juga ditemukan oleh Landsteiner. Penamaan golongan Rhesus ini diambil dari nama kera yang diteliti Landsteiner, namanya Macacus rhesus. Pada kera ini didapati antigen dan antibodi yang sama dengan manusia.
FastStoneEditor Sistem Transportasi (5) : Golongan darah Rhesus
Sang monyet : Macacus rhesus.
Ada dua jenis golongan Rhesus, yaitu Rhesus (+) dan Rhesus (-). Orang bergolongan Rhesus + memiliki antigen Rhesus (antigen Rh) pada eritrositnya dan tidak memiliki antibodi. Golongan Rhesus – memiliki antibodi Rhesus (anti Rh) pada plasma darahnya dan tidak memiliki antigen. Lihat tabel berikut:
Golongan
Rhesus +
Rhesus -
antigen
antigen Rhesus
-
antibodi
-
anti Rhesus

Orang bergolongan Rhesus – bisa menjadi donor terhadap golongan Rhesus – maupun Rhesus + (dalam kondisi darurat). Tetapi orang Rhesus + hanya diperbolehkan mendonorkan darahnya kepada Rhesus + saja, dan tidak boleh ke Rhesus –. Alasannya sama seperti golongan darah ABO, yaitu karena Rhesus + sebagai donor memiliki antigen (antigen Rhesus) dan Rhesus -  sebagai resipien memiliki antibodi (anti Rhesus). Inkompatibilitas ini akan menyebabkan penggumpalan (aglutinasi) antigen Rhesus oleh anti Rhesus, dan bisa menyebabkan kematian sang resipien.
Nilai medis lain dari golongan Rhesus ini terutama dalam masalah perkawinan. Jika seorang pria Rhesus + menikah dengan wanita Rhesus –, maka anaknya berpeluang mengalami eritroblastosis fetalis (penyakit kuning pada bayi). Kasus ini hanya terjadi pada tipe perkawinan pria Rhesus + dengan wanita Rhesus –.
Jika ibu Rhesus – mengandung anak pertama Rhesus +, maka sang ibu akan membentuk anti Rhesus (antibodi). Jika kehamilan kedua sang anak bergolongan Rhesus + maka anti Rhesus ibu akan menyerang dan menyebabkan kerusakan eritrosit bayi yang dikandungnya.
FastStoneEditor Sistem Transportasi (5) : Golongan darah Rhesus
Karena banyak eritrosit yang rusak, darah bayi lebih banyak mengandung eritroblas (eritrosit yang masih muda dan berinti). Sementara itu kerusakan eritrosit yang cukup tinggi mengakibatkan meningkatnya urobilin, yaitu pigmen kuning yang memberi warna pada urine. Inilah yang menyebabkan bayi tampak berwarna kuning.
Pada kasus tertentu pertolongan pada bayi dapat dilakukan dengan fototherapi yaitu penyinaran dengan cahaya ultraviolet, transfusi post natal (setelah lahir), atau transfusi pre natal (sebelum lahir) dengan menyuntikkan darah langsung ke umbilikal (tali pusar).
Berdasarkan pembagian ras manusia, ternyata rhesus negatif lebih banyak dijumpai pada orang:
  • Eropa (bule) sekitar 15% Rh – dan 88% Rh +
  • Negro : 7-8% Rh – dan 90 – 93% Rh +
  • Asia : 99% rhesus +  dan Rh – < 1%
Mungkin inilah yang menyebabkan cukup tingginya prevalensi eritroblastosis fetalis jika terjadi pernikahan pria Asia dengan wanita bule.