Minggu, 09 November 2025

Pelindung dari api Neraka

 Pelindung dari Api Neraka

(Sebuah cerita Fiksi) 

Aku seorang gadis dari keluarga berkecukupan. Teman teman SMAku juga orang-orang kaya dengan latar belakang orang tuanya sebagai pemilik perkebunan kelapa sawit. Aku pergi ke mana-mana bersama temanku naik mobil, terkadang motoran juga bersama genk ku. Aku seorang gadis yang ekstrovert dan gampang bergaul sehingga banyak temanku. Hingga aku pernah menjadi penyiar radio dan juga televisi di Yogyakarta saat aku kuliah S1 Hukum di universitas swasta.

Aku kuliah di Yogya dan berkenalan dengan seorang bos yang bernama Toni. Namun jangan kaget ya, Toni itu adalah seorang chinese yang imannya sesuai dengan sukunya, alias non muslim. Dia ganteng dan borju hingga akhirnya aku jatuh cinta dan mau dijadikan istrinya. Dia merayu aku untuk bisa menjadi istri keduanya karena istri pertamanya tidak memiliki anak hingga pernihakan ke 10 tahun. 

Kami akhirnya menikah siri di gereja dan hidup berkecukupan di dalam rumah yang megah namun pagarnya terkunci rapat. Aku hanya bisa keluar rumah jika ditemani suamiku yang ganteng putih dan sipit dan sangat menyayangi aku. Semua kebutuhanku dicukupi hingga aku memiliki anak pertama perempuan, lahir adeknya laki-laki dan kini anak terkecilku umur 3 tahun. Anak-anakku genetiknya banyak menurun dari suamiku, puitih imut dan sipit. 

Suamiku berpesan untuk tidak membuka pintu pagar kecuali buat suamiku dan kerabat yang sudah kami kenal. Dilarang menerima telpon dari nomor yang tak dikenal, dilarang menelpon suamiku kecuali beliau yang menelpon. Yaa beginilah menjadi istri simpanan, beneran aku disimpan karena istri Toni selalu ingin mengetahui di mana keberadaan kami. 

Saat suamiku pergi kerja, aku memanfaatkan waktu untuk mengikuti kajian secara online.  Pada suatu hari aku mendengarkan kajian bahwa pernikahan kami itu termasuk zina. Pak Kyai membuat hatiku terbuka dan takut pada azab akhirat yang tak berujung. Aku beranikan diri untuk mengajak suamiku masuk islam, namun beliau tidak bersedia. Bismillah akhirnya aku beranikan diri untuk mengakhiri semua ini, walaupun aku sangat mencintai suamiku. 

Hidup baru aku mulai dengan derai airmata antara cinta dunia dan cinta Alloh yang berperang dalam jiwaku. Aku diantarkan suamiku ke terminal dengan membawa bekal baju secukupnya dan uang yang telah diberikan untuk bekal kami hidup. Satu sertifikat rumah untuk menghidupi 3 anakku kelak. Aku pulang ke rumah orang tuaku. Seminggu aku di rumah, aku ijin ibuku untuk mencari penghidupan buat 3 anakku. Aku menitipkan 2 anakku pada ibuku dan membawa si kecil merantau ke pulau Jawa. Mulanya aku kunjungi gunung Bromo.