Harta dan Anak : Ujian atau Jebakan ?
Salah satu kebahagiaan yang dirasa paling sempurna ketika membina rumah tangga adalah memiliki anak disertai dengan ekonomi yang cukup, semua kebutuhan relatif terpenuhi, dan keinginan tercukupi. Dengan keberadaan semua itu, maka rumah tangga terasa lebih lengkap dan lebih indah. Hubungan suami istri pun akan lebih erat dan lebih harmonis. Salah satu tujuan utama dalam pernikahan itu sendiri adalah untuk memperoleh keturunan, agar bisa menjadi ikatan penguat antara suami istri dalam membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Kita jangan terpaku pada nikmat duniawi sebagai ukuran kebahagiaan dan keberhasilan karena di QS 23 : 55 bahwa harta dan anak bisa menjadi ujian dan jebakan bagi orang-orang yang lalai. Mereka tidak menyadari bahwa kenikmatan duniawi bisa jadi hanya penundaan azab atau bahkan azab itu sendiri , karena mereka semakin jauh dari Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan melalui QS 8 : 28 bahwa harta dan anak adalah cobaan dari Allah, agar menjadi jelas siapa yang memiliki iman yang kuat dan yang lemah. Orang yang kuat imannya tidak disibukkan oleh harta dan anaknya dari ketaatan Allah. Sedangkan orang yang imannya lemah, harta dan anak akan menyibukkannya dari ketaatan Allah.
Allah mewarning kita di QS 63 : 9 bahwa harta dan anak dapat menyibukkan dan memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat Allah dan mengerjakan amal kebajikan.
Aisyah ra mengemukakan dalam haditsnya, ketika Rasulullah SAW memeluk seorang bayi, beliau bersabda,
”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut , dan mereka juga adalah termasuk dari haruman (bau-bauan yang harum) Allah SWT”.
Kita harus berhati-hati dan sabar menghadapi anak dan pasangan karena diantara mereka di QS 64 : 14 ada yang menjadi musuh. Mereka perlu dibimbing, tidak terlalu ditekan bahkan sebaliknya dimaafkan dan tidak dimarahin tetapi diampuni.
Semoga Allah SWT memberikan karunia anak yang shalih, yang membantu dalam ketaatan dan menjadi pengingat dari kelalaian, serta memberi nasihat ketika lupa dan luput dari ajaran Islam.....aamiin 🤲
Wallahu'alam bishowab ❤️
Suatu ketika kau bilang "Aku mondok ini hanya karena nuruti umi, aku punya cita-cita sendiri"
Ya Alloh....bimbinglah anakku...aku hanya bisa berdoa seperti itu sambil ngangis setiap malam di tahajudku. Aku hanya bisa bergantung pada Alloh atas nasib anakku. Secara logika mungkin suatu saat anak-anakku akan menjadi ustd guru ngaji al Qur'an. Namun aku hanya pasrah pada kata-kata ustd bahwa ilmu terbaik itu al Qur'an. Mengajarkan terbaik adalah mengajarkan Al Qur'an.
Ya Alloh anakku sudah manut di jalanMu, tolonglah mereka di dunia dan di akhirat....doa itu terus aku lantunkan. Sebagai ibu aku masih juga logika dengan kehidupan dunia anakku. Melihat beberapa teman anakku yang akhirnya keluar untuk kuliah di perguruan tinggi negri.
Saat hatinya tidak lega, bisa saja emosional. Namun aku hanya mengingatkan dengan penuh kesabaran, bahwa hal itu dosa, tidak disukai Alloh. Aku hanya memaklumi apa yang ada dalam bsikan nafsunya. Aku hanya bilang "Nak mungkin kamu sekarang belum merasakan perlunya yang diajarkan orang tua dan guru-gurumu, namun umi yakin suatu saat kamu akan memerlukan ini semua".
Suatu ketika dia lega hatinya baru aku bercerita tentang kondisi anak temanku yang lulus S2 juga mencari kerja urusan ekonomi tidak mudah. Kuliahnya juga tidak murah, namun saat mencari kerja juga tidak tiba-tiba mendapatkannya. Temannya anakku ke dua, sudah kerja dan tidak mudah juga menghindari hal-hal subhat di lingkungan kerjanya.
"Jangan tergantung pada logika nak, Alloh akan menolong kita bila kita berusaha maksimal, dijalanNya dan percaya bahwa Alloh akan menolong. Kamu sudah berusaha menghafal Qur'an dan ilmu lainnya di pondok itu sangat bagus dan membuat umi tidak malu bila menyerahkan kamu pada Alloh. Karena kamu sudah di jalan Alloh".
Anak kita memang belum tahu arah hidup, kita sebagai orang tua harus mengarahkan dengan sabar dan mendoakan supaya hatinya mencintai Alloh. Sungguh itu suatu hal yang tidak mudah, namun jika kita menuruti kemauan anak yang belum tahu arah maka bisa jadi nanti di akhirat kita akan dituntut oleh anak. Mungkin memang saat itu anak kita emosi hadapilah dengan sabar, berilah hal kebutuhannya semampu kita sambiul diberikan pengetian tentang kebutuhan dan kondisi ekonomi insyaalloh anak kita akan mengerti.
Alhamdulillah kesabaran anak pertamaku dalam mencari ilmu, nurut sama arahan orang tua, kesabaran menghadapi ekonomi keluarga, kesabaran dalam berbagi perhatian dan kesabaran dalam mengendalikan hawa nafsu untuk tidak pacaran membuat Alloh menolongnya. Memberikan kehidupan seperti yang aku inginkan, yang aku doakan setiap saat aku merasa tindak nyaman dengan kondisi yang aku alami. Ubahlah hal yang tidak kau sukai menjadi video bayangan hidup yang kamu inginkan, maka saat emosi memuncak itulah doa akan dikabulkan. Tetaplah sabar walaupun doa itu tidak terkabul buat dirimu, mungkin untuk anak-anakmu atau cucumu.
Mempunyai 5 anak mondok al Quran mungkin itu adalah cita-cita dan doa bapakku yang mondok tidak lulus karena diminta embahku pulang kampung. Bapakku manut sama emboknya, memang hidup beliau sederhana, namun cita-cita bapak emakku sangat mulia "kamu harus lebih baik dalam segala hal dibandingkan bapak, Ilmu matematika boleh 80 tapi lek agama harus 100". Artinya bapakku walaupun sekolah SD tidak lulus dan mondok juga gak lulus namun visioner dunia dan akhirot....alfatihah buat beliau berdua.





