Selasa, 02 Juni 2026

Hari Tua

 QS 8 : 44

Hati Yang Bersih Dan Selalu Bersandar Kepada Allah SWT


                                                                            



Peristiwa Perang Badar ini menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah akan datang kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, meskipun dalam keadaan yang sulit.

Pada QS 8 : 44 mengajarkan pentingnya memiliki hati yang bersih dan selalu bersandar pada Allah dalam segala urusan.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa jumlah pasukan bukanlah penentu kemenangan, melainkan keimanan dan pertolongan Allah-lah yang menjadi kunci keberhasilan.

Pada QS 8 : 63 menunjukkan bahwa Dzat yang tak pernah mengecewakan, yaitu Allah SWT. Sebagai seorang mukmin, kita dalam QS 5 : 23 diajarkan untuk selalu menyandarkan segala harapan dan kepercayaan hanya kepada-Nya, karena hanya Allah yang mampu memberikan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa pernah menyalahi janji.

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya, mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apa pun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

Ada pun kita, manusia, di QS 91 : 8 - 9 diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha." (dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan).

Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan dikembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapa pun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk. Naudzubillah.

Wallahu'alam bishowab ❤️

Bersandar pada Alloh.....itu yang dilakukan Bapak Ahmad Atim, seorang kakek berusia 87 tahun. Istrinya meninggal tahun 2012 dengan tidak mempunyai anak. Kini beliau hidup bersama cucu ponakannya yang juga bukan orang berkecukupan. Pak Atim sudah tidak kuat lagi berjalan jauh. 

Aktivitasnya mulai dari jam 02 dini hari beliau solat tahajud "aku wes ora kuat mlaku, isoku mung mendoakan semua kaum muslimin dan muslimat". Lanjut dengan solat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya, jam 7 pagi beliau duduk di pom bensin karang ploso.

Beliau duduk sambil tersenyum, dalam hatinya berdzikir dan mendoakan orang yang melintas di jalan. Itulah bentuk tawakkal pada Alloh, dengan berdoa dan berusaha untuk duduk, menampakkan diri dengan senyuman menandakan hati yang penuh ketenangan, membuat tulisan di sepedanya dengan terus berharap Alloh yang memberikan rezeki. Jam 12 beliau pulang dengan membeli sebungkus nasi. 

Beliau yakin bahwa Alloh akan memberinya rezeki seperti burung di halaman SMA Al Hikmah IIBS Batu yang selalu terdengar riuh gembira seakan tidak memiliki masalah. Dia  pergi pagi seiring terbitnya matahari dengan penuh keceriaan. Memakan nasi yang aku dan bu Imam di halaman rumah...rammmeee banget....mungkin mereka sedang berdzikir dan bersyukur telah mendaparkan rezeki nasi garing. "Terimakasih ya Alloh...terima kasih bu Asri....terimakasih bu Imam.....aku doakan kau bahagia seperti aku...kau masih sorga...aamiin". Sesaat kemudian, jam 6 sudah hilang suaranya...mungkin mereka sudah kenyang. 

Suatu ketika aku bertanya iseng pada suamiku, "Setelah mereka makan...burung -burung itu ngapain ya mas?". Suamiku menjawab asal bunyi sambil tertawa "dolan". Alhamdulillah saat aku keluar rumah dan duduk termenung di halaman depan, sambil melihat MPH yang megah dan halaman yang asri hijau rumputnya. Tarraaaaaa kulihat 2 burung sedang bergurau, kejar kejaran, mungkin itu suami istri...hehe.

Pelajaran lagi, bahwasanya tawakkal itu membuat rukun dalam kehidupan terlihat burung bergurau bukan saling mematuk, damai di hati walaupun tidak tahu hatinya burung mereka terbang pelan sambil berkicau. Burung tidak berusaha menyimpan makan dari aku dan bu Imam karena yakin besok pasti ada lagi. Mungkin juga dia membawakan anakknya yang disangkar, yaaa sebatas kebisaan paruhnya membawa nasi kering dari bu Imam. Jadi teringat Bapakku saat menanam padi, tidak pernah menghalau burung yang makan padi. Bapak selalu bilang "yo wes ben di waregki, gak atene ngentekne tandurane bapak, iku sedekahe bapak dadi petani. Sedekah neng manuk, uler, bakteri". Masyaalloh bapakku idolaku yang selalu menginspirasi aku...Ya Alloh sayangi bapak dan emakku....al fatihah...

Foto dapat dilihat di siniiii  https://www.instagram.com/p/DZBSGf5kvq8/?igsh=MXN0eTl0dGwwYmo4cg==    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar