Menafkahi Anak berbuah Husnul Khotimah
فقة الأولاد أفضل من بناء المسجد وبناء المستشفيات وبناء الشوارع لأن الإنسان مقدّم على البنيان
(كلام الشيخ إسماعيل العدوي الأزهري)
Menafkahi anak lebih besar pahalanya daripada membangun masjid, rumah sakit dan jalan raya, karena sesungguhnya manusia lebih diutamakan daripada bangunan"
Alloh Maha Baik
25 Agustus Bapak Jaelani meninggal dunia di atas kapal yang menjadi tempat tugasnya. Selesai solat beliau bilang pada temannya "Perutku kembung cak". Secepat mungkin temannya merawat dan mengajak pak jaelani untuk beristigfar. Kapten kapal juga langsung membelokkan kapalnya untuk menepi dan menuju rumah sakit Bayangkara di kota Kendari. Sampai di rumah sakit beliau sudah dinyatakan meninggal dunia dan langsung jenazah beliau di antar ke bandara menuju bandara Juanda. alhamdulillah lancar sampai di Sabrang Bendo.
Bapak Jaelani sebelumnya sudah berencana kalau tanggal 25 Agustus akan pulang untuk menghadiri pernikahan keponakannya. Beliau pulang beneran dalam kondisi sudah meninggal tanggal 24 agustus jam 12 malam. Pernikahan ponakannya berlangsung tanggal 27 Agustus dalam kondisi duka cita. Setelah 7 hari tahlilan di keluarga Almarhum bapak Jaelani, keponakan beliau yang setiap hari menghadiri tahilan tiba-tiba meninggal dunia. Keponakannya meninggal dalam usia 32 tahun, baru memiliki 1 anak TK. Bapak Jaelani meninggal usia 61 tahun. Ya Alloh hidup adalah milikMu. Bimbinglah kami untuk menghadapMu dalam keadaan yang Engkau Ridhoi dan Husnul Khotimah...aamiin
Beliau selama hidupnya bekerja berjauhan dari keluarga, pernah tugas di Jepara dan keluarga di Batu. Jika keluarga menjenguk beliau maka tidurnya di hotel. Beliau berpikir jika hal tersebut terus dilakukan maka akan menghabiskan banyak uang, maka bapak Jaelani membeli rumah untuk transit keluarga. Alhamdulillah ada orang membutuhkan uang dan harga 80 juta. Kini rumah itu sudah direnovasi dan pernah di tawar orang 350 juta.
Beliau dan istrinya rela membeli rumah lagi untuk hidup berdua dan rumahnya diberikan pada 2 anaknya yang sudah berkeluarga dengan masing-masing memiliki 2 anak. Beliau bekerja di luar pulau sementara istrinya tinggal di rumah sendirian. Istrinya sabar tinggal sendiri di rumah, demi anak-anak bisa sekolah dan kini sudah bekerja dan berkeluarga.
Bapak dan Ibu Jaelani sama-sama sabar dan tetap menjaga keutuhan rumah tangga walaupun hidup berjauhan.
Sabar mendidik 2 anak beliau sampai bekerja menjadi ajudan wali kota batu dan menjadi guru.
Sabar mencari nafkah walaupun jauh demi bisa membelikan anaknya rumah sampai beliau meniggal dunia.
Sabar membeli rumah lagi demi kenyamanan istrinya yang ditinggal kerja jauh.
Sabarnya bu Jelani yang mandiri menemui suaminya di kota lain tempat bapak Jaelani transit, saat tidak bisa pulang ke rumah karena waktu yang terbatas harus berlayar lagi.
Sabar mendidik anak-anaknya untuk tetap mecari ilmu hingga bisa menata hidupnya dalam rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
Sabarnya bu Jaelani mendidik anak walaupun tanpa suami yang setiap hari menemani. Bu Jaelani tetap menghadirkan sosok ayah Jaelani di hadapan 2 anaknya.
Sabarnya 2 anak beliau yang tetap di jalan ilmu, menghargai ayahnya yang bekerja jauh demi keluarga.
Ya alloh masukkan Bapak Jelani ke Sorga Mu bersama orang solih lainnya, dan bapak Jaelani lainnya yang telah memberikan nafkan demi keluarga...aamiin.
