Rabu, 28 Oktober 2026

Alhamdulillah

 Alhamdulillah

Kehidupan : Anugerah yang patut disyukuri

U Imam bilang "dzikir yang paling saya sukai adalah alhamdulillah". Saat itu aku masih banyak mengeluh dengan situasi yang aku alami. "Ya saya seh kadang Alhamdulillah kadang astagfirulloh ustd, karena masih ada hal yang belum saya inginkan terjadi dalam hidup saya". Begitu saya membantahi beliau. 

Namun seiring waktu, pelajaran hidup terus menempa dan perenungan terus saya lakukan. Alhamdulillah ternyata banyak yang harus disyukuri dalam hidup ini.  Walaupun juga masih ada hal yang kurang mengenakkan, namun ibaratnya makan ikan bandeng, jangan fokus pada durinya namun fokus pada dagingnya, toh dagingnya lebih banyak dari durinya.

QS Al-Baqarah (2) : 28

Setiap napas adalah anugerah, setiap detik adalah kesempatan untuk bersyukur. Kehidupan ini adalah hadiah yang tak ternilai, mari kita syukuri dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan disia-siakan dan jangan durhaka kepada Allah, karena di QS 2 : 28 Allah Mahakuasa menghidupkan dari mati, lalu mematikan dan membangkitkan kembali, kemudian hanya kepada -Nya kita akan kembali untuk pertanggungjawaban.....sehingga mengingkari nikmat dan kekuasaan-Nya adalah kebodohan besar.


Mari kita hidup dengan penuh kesadaran dan ketaatan, sehingga kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dengan kehidupan, kita bisa merasakan nikmat-nikmat duniawi, seperti nikmat makanan, keindahan alam, hubungan sosial antar manusia, kesehatan tubuh, kecerdasan pikiran dan nikmat-nikmat lain. Tanpa kehidupan, apakah kita dapat merasakan nikmat-nikmat tersebut?


Dalam QS 67 : 2, Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kita seberapa besar amal kita. Artinya kehidupan sebagai sumber segala nikmat, duniawi maupun ukhrawi. Melalui kehidupan, manusia berkesempatan merasakan nikmat akhirat dengan dapat melakukan amal baik serta menjauhi amal buruk di dunia, sehingga memperoleh balasan nikmat surga di akhirat kelak. 


Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ibn Abi Hatim dari Imam Qatadah :

Sesungguhnya Allah SWT membuat hina anak Adam dengan kematian (ketiadaan). Ia menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan, kemudian tempat kematian. Dan ia menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan, kemudian tempat yang kekal (HR. Ibn Abi Hatim).


Hadits ini menunjukkan kepada kita, bagaimana Allah mengangkat manusia dari keadaan hina lewat kesempatan untuk hidup. Diberikannya kehidupan adalah kesempatan untuk membuat diri memperoleh derajat mulia. Kemuliaan ini dapat kita peroleh tidak di dunia semata, tapi juga di akhirat. Oleh karena itu, kita harus bisa memanfaatkan kehidupan agar bisa memperoleh tambahan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jangan sampai justru membuat diri hina dan menderita.


Mari kita syukuri dan manfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan menjadi hamba yang diridhoi Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar